Beranda > Uncategorized > Tazkiyatun nafs

Tazkiyatun nafs


Kerbersihan diri untuk menuju kefitrahan, senantiasa mendapat tantangan. Tantangan yang paling besar adalah diri (nafs). Inilah yang di isyatratkan Rosul dengan jihad akbar. Berkenaan dengan moment apapun, marilah kita berusaha menghilangkan penyakit diri terutama yang dapat menghalangi amal jihadiyah selama ini.

1.    Malas
Kemalasan akan mengakibatkan kefakiran., fakir lahir, fakir bathin, fakir material, fakir sepiritual, fakir dunia, dan fakir akhirat. Baik al-Qur,an maupun Hadist selalu memerintahkan manusia agar selalu bekerja sesuai dengan potensi yang telah Alloh anugrahkan. Alloh berfirman: QS 9:105, 41:5,
Nilai seseorang sangat bergantung kepada  yang telah diperbuatnya, bukan atas bantuan atau syafa’at orang lain. (QS 53:39)
penyebab kemalasan antara lain sebagai berikut :

1.    Lemah fisik dan mental
2.    Lemah ilmu dan pengalaman
3.    Lemah keyakinan dan harapan (roja) terhada limpahan Rahmat Alloh, yang membuatnya tidak percaya diri

Hindari penyakit malas ini dengan cara berikut:

  1. Melakukan olah fisik secara teratur.
  2. Memperluas ilmu, keteramilan dan pengalaman
  3. Memulai bekerja dengan penuh optimis dan niat yang mengebu-gebu
  4. Menghindari putus asa jika menghadapi kegagalan
  5. Mengkonsentrasikan diri dalam suatu target dan sasara. Rosululloh pernah bersabda : “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya”
  6. Memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki
  7. Senantiasa bermusyaarah dengan orang yang berilmu dan berpengalaman dalam bidang pekerjaan yang akan dikerjakan
  8. Senantiasa meminta pilihan terbaik (istikhorah) keada Alloh dengan sholat hajat dan sholat Istikhoroh pada malam hari. Rosul bersabda : “Tidak akan merugi bagi orang yang selalu beristikhoroh, dan tidak akan menyesal orang yang selalu bermusyaarah”.
  9. Jika rencana kerja sudah betul-betul matang, mulailah melangkah dengan do,a tersebut : “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan keuatan melainkan daya dan kekuatan Allah yang maha agung. Ya Allah aku berlindung keadaMu agar aku tidak menyesatkan atau di sesatkan orang lain, mencelakakan atau dicelakakan orang lain, mendzolimi atau didzolimi orang lain, menipu atau di tipu orang lain, dengan rahmatMu.” (Al-Hadits)

2.    Taswif (Menunda-nunda amal)
Taswif adalah menangguhkan amal baik sampai waktu yang di inginkan, padahal saat itu seseorang sudah mampu dan tidak ada halangan untuk melakukannya. Sikap ini termasuk penyakit hati yang sangat tercela, apalagi jika yang ditangguhkan itu  amal-amal akhirat, seperti menangguhkan taubat sampai puas berbuat dosa, menangguhkan infak sampai kaya terlebih dahulu, menangguhkan shalat sampai betul-betul tidak sibuk. Sikap taswif mengakibatkan hal-hal berikut :

  • Meninggalkan amal ibadah, karena apa yang tersirat dalam hati itu sebenarnya tipuan syaitan untuk melemahkan kemauan seseorang, menghabiskan waktu, dan membuatnya lelah dengan kesibukan lain sehingga kekuatan untuk melaksanakan ibadah menjadi terkuras.
  • Tidak sungguh-sungguh dalam beribadah. Ibadah dianggapnya belum perlu dilakukan.
  • Pesimis dalam setiap pekerjaan.
  • Tertinggal oleh orang yang sudah berlomba dan bersegera meraih kesuksesan.

Allah dan rosulnya membenci sikap ini, artinya kita mesti bersegera menjalankan kebaikan, Allah berfirman : “Bersegeralah kamu pada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga.”(QS Ali Imran 3:133).

3.    Tergesa-gesa
Tergesa-gesa (‘Ajalah) adalah keinginan dalam hati untuk meraih semua yang dicita-citakan dengan segera, tanpa perhitungan, pertimbangan, dan pemikiran yang matang yang dapat memenuhi kesempurnaan pekerjaannya. Sikap tergesa-gesa ini merupakan penyakit yang secara asasi hampir dimiliki oleh setiap orang. Allah berfirman : “Manusia telah dijadikan (Bertabiat) tergesa-gesa.”(QS Al-Anbiya, 21:37). Sikap tergesa-gesa ini akan mengakibatkan hal-hal berikut:

  1. Timbulnya rasa lelah dan terkadang memaksa seseorang berhenti bekerja, karena pikiran dan tenaganya terkuras untuk meluluskan suatu meksud dengan cepat diluar kekuatannya, akhirnya ia akan segera menyerah dengan sendirinya.
  2. Hilangnya rasa Taqwa dan wara’. Pekerjaan yang dilakukan dengan tergesa-gesa akan memaksa seseorang mengabaikan segala aturan yang mengikatnya, sehingga tidak heran kalau dia tidak lagi memperitimbangkan halal, haram, syubhat, atau makruh. Tergesa-gesa ini cenderung di dominasi oleh pengaruh syaitan. Rosululloh bersabda : “tergesa-gesa itu dari syaitan.”

Sifat ‘Ajalah berbeda dengan sifat musabaqoh (Berlomba-lomba dalam meraih yang terbaik). Dalam hal ini Allah berfirman : “Dan tiap-tiap ummat itu ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah kamu  (Dalam berbuat) kebaikan.”(QS. 2:148).
Musabaqoh mengandung makna satu kompetisi, berlomba untuk mendapatkan yang terbaik sesuai dengan aturan mainnya.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: