Beranda > Uncategorized > Konsekuensi DAKWAH

Konsekuensi DAKWAH


“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakanmanusia dari segumpal darah, dan Tuhanmu teramat Mulia. Yang mengajarkan dengan pena(tulis baca). Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS.Al-Alaq: 1-5)
Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi kita Muhammad saw., sekaligus merupakan surat penobatan beliau sebagai Rasulullah, sebagai utusan Allah kepada seluruh ummat manusia.

Sebelum SK ke-Rasulan ini turun, Muhammad, oleh kaumnya, masih diperlakukan sebagai manusia terhormat. Bahkan penghormatan kepada Muhammad jauh lebih di atas anggota masyarakat kebanyakan. Muhammad diperlakukan sangat sopan, baik oleh kaum kafir Quraisy maupun oleh kaum kerabatnya sediri. Mereka menaruh hormat kepada Muhammad sebagai orang yang berbudi luhur.
Salah satu bentuk kesopanan itu, mereka memberi penghargaan atas kepribadian Muhammad dengan gelar TAl-AminU. Ia, Muhammad, adalah orang yang dapat dipercaya. Tak ada sesuatu perbuatan dan tingkah lakunya yang tercela dan dapat ditunjukkan kepadanya. Berlainan sekali dengan tingkah laku dan perbuatan kebanyakan pemuda-pemuda dan penduduk kota Mekkah pada umumnya yang gemar berfoya-foya dan mabuk-mabukan.

Sejak kecil hingga dewasa, Muhammad tidak pernah melakukan perbuatan seperti itu. Muhammad juga tidak menyembah berhala, dan tidak pernah makan daging hewan yang disembelih untuk kurban berhala-berhala seperti lazimnya masyarakat jahiliyah. Dari sudut pandang kerusakan yang melanda zamannya, gelar TAl-AminU sangat istimewa. Mengapa mereka mengagumi karakteristik khas Muhammad yang justru menyimpang dari tata cara hidup mereka? Mengapa mereka memperlakukan Muhammad sebegitu istimewa? Bahkan seandainya ada TkontesU pria dengan akhlak terbaik, pastilah pilihan itu jatuh pada diri Muhammad.
Sayang seribu kali, ketika Muhammad mendeklarasikan dirinya sebagai Rasul, sebagai utusan Allah yang Maha Mulia, kekaguman itu berbalik 180 derajat dengan kebencian. Kehormatan yang disandangkan kepadanya berubah menjadi kemurkaan. Rasa benci kaum musyrik menjalar dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Intisari ajaran Muhammad mengajak manusia kepada tauhid yang tunggal laa ilaha illallahu, bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, mengundang kebencian setengah mati. Bagai disambar petir di siang bolong, mereka amat sangat marahnya. Sejak saat itu dada dan kepala mereka bagai terbakar. Kemarahan tidak lagi bisa dibendung.

Untaian kalimat “Laa ilaha ilallahu” berarti desakralisasi ideologi berhala, yang mencabut akar kesesatan yang selama ini telah mendarah daging. Bagi mereka, kehadiran ajaran Muhammad, bahkan bukan saja telah menyinggung, namun juga hendak meruntuhkan struktur kepemimpinan dan kurtur bangsa yang dibina berabad-abad.
Ajaran baru Muhammad menjelaskan bahwa segala bentuk berhala-berhala yang mereka pertuhankan, sama sekali tidak memberi mudharat dan tidak pula mendatangkan manfaat. Sebaliknya mereka hanya membuat manusia menjadi bodoh akibat mengubur akal pikirannya secara tolol.

Akhirnya, terciptalah sebuah dialog nasional yang bersepakat menghentikan kiprah dakwah Muhammad dan ajarannya. Para pemimpin kafir Quraisy Mekkah bersekongkol untuk memberangus benih dakwah Islam. Sejak saat itu tidak ada lagi kompromi dan simpati kepada Muhammad bin Abdullah.

Kegigihan Bilal bin Rabbah
Kebencian itu tidak lain akibat munculnya keberanian yang luar biasa di kalangan muallaf yang kebanyakan dari kalangan rakyat jelata, utamanya dari para budak. Mereka bangkit melawan belenggu penindasan. Selama ini hidup mati mereka ada di dalam genggaman para penguasa. Tidak ada kebebasan dan kemerdekaan.

Kini budak-budak itu berani berkata TtidakU kepada majikannya. Suatu hal yang sebelumnya sangat tidak lazim dilakukan. Ketika berbicara, kelopak mata mereka tidak lagi disembunyikan di telapak kaki. Tatapannya berani lurus, berdiri sama tegak dan duduk sama rendah. Tidak ada lagi rasa minder dan perasaan takut-takut. Secara demonstratif sosok budak Bilal bin Rabbah sebagai prototipe manusia tiada harga bisa menjadi simbol pembebasan kaum budak. Dia bahkan berani menolak perintah majikannya, Umayah bin Khalaf, yang menyuruhnya kembali ke ajaran berhala. Bila tidak, ancam UmayahQ imbalannya adalah siksa yang sangat berat.
Tapi Bilal tetap teguh, apa imbalan dari keteguhan Bilal? Sungguh gila sang majikan Umayah. Ketulusan dan kesungguhan Bilal dalam membela Islam digantinya dengan siksa yang berat dan bertubi-tubi. Bilal diikat lehernya, diseret lari oleh anak-anak kampung suruhan sebagai barang mainan. Dia dilempari batu dan dicaci maki bagai anjing kudisan. Puncak derita fisik Bilal adalah ketika dia dijemur di tengah padang pasir yang sangat terik. Tapi dengan kekuatan Rlaailaha illallahuUnya yang mantap Bilal tetap bertahan pada iman.
Bagi Bilal siksa itu jauh lebih manis dari pada harus melepas agama tauhid yang sungguh mulia lagi penuh cahaya. Itulah ledakan awal kekuatan syahadat yang menjadi pondasi utama keislaman seseorang. Sungguh indah bila setiap ummat Islam mempusakai diri dengan syahadat yang benar seperti Bilal bin Rabbah. Dia akan menjadi mercusuar bagi bangkitnya agama ini. Beberapa Hikmah dari Sejarah :

  1. Kemuliaan dienul Islam dan ummat Islam yang telah terformat oleh wahyu-Nya, tidaklah dapat dipungkiri, ia akan mengundang daya tarik yang mengagumkan bagi segenap manusia. Kekaguman itu bisa berbentuk dalam berbagai ucapan simpati, ataupun benci sebagai akibat rasa cemburu. Sikap ummat yang telah TdibalutU wahyu memang akan mengundang daya tarik dan juga kharisma.
  2. Namun apabila ajaran konsep mulia dari yang Maha Mulia, Allah swt mulai dimunculkan secara transparan, apalagi sampai diusulkan menjadi undang-undang dan konsep hidup di tengah kehidupan mereka, kemudian mengganti, mengatur dan mengendalikan hidup mereka, sudah dipastikan konsep kebenaran yang telah diketahui kebenarannya akan mereka tolak mentah-mentah. Mereka lebih cenderung mempertahankan konsep hidup (ideologi) yang dianut oleh nenek moyang mereka, sesepuh Orde Lama, dewa-dewa dan para raja yang telah disesatkan Allah swt.
    “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah.’ Mereka menjawab: ‘Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang bapak-bapak (nenek moyang dan sesepuh) kami mengerjakannya.'” (QS.Luqman: 21). Refleksi sikap seperti itu bisa ditangkap dalam proses reformasi kini, sebagai wujud kebenaran Firman Allah swt tersebut.
  3. Saat ini kita sedang ditarik-tarik oleh banyak orang dalam wadah-wadah politik yang ada. Mereka mengatasnamakan kepentingan perjuangan untuk rakyat, yang tentu tidak lain adalah kepentingan ummat Islam sebagai ummat mayoritas. Bila diselami secara baik tarikan itu nyatanya bukan wudud rasa simpati kepada mereka secara tulus. Apalagi terhadap Islam. Melainkan tidak lebih sebagai Tterminal politikU untuk mencapai sasaran kepentingan mereka.
  4. Dibutuhkan sosok kader sekualitas Bilal bin Rabbah, agar dakwah Islam ini dapat bersinar lebih terang karena ketabahan dan kegigihannya dalam mempertahankan dan membela kebenaran. Kita adalah bilal-bilal di tengah riuh rendahnya kehidupan peradaban modern. Kalau sebagian golongan ada yang begitu bangga mati-matian membela jalannya yang dhulumat, maka sudah selayaknya bilal-bilal modern tampil lebih gagah berani dalam membawa dan mengibarkan bendera nur (cahaya) Ilahi. Semoga Allah swt senantiasa membimbing kita dalam jalan-Nya yang lurus. Ihdinashshiraathal mustaqiim
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: